Aku, dia dan waktu - Part 1

Sebelum kalian membaca cerita pendek ini, aku sebagai author ingin menyampaikan sedikit penjelasan tentang cerita pendek ini.

CERPEN ini menceritakan tentang pemuda yang selalu lari dari masalah. Sehingga dia lebih banyak menyesal di kemudian hari. Sebut saja tokoh utamanya Baim yang kini harus menyesali perbuatannya karena telah melalaikan waktu.

Cerpen Aku, dia dan waktu ini bersifat fiktif, yang artinya tidak ada tokoh sungguhan yang aku ceritakan di dalamnya. Meskipun fiktif alias tidak nyata, ada beberapa cerita yang aku adaptasi dari kehidupan nyata seseorang. Watak dan karatker pada tokoh ini aku adaptasi dari beberapa orang terdekatku.

Terakhir, Aku mau sampaikan ucapan terimakasih kepada teman-teman yang telah mensuportku dalam menulis cerita ini. Aku berharap kedepannya cerpen ini bisa aku kemas dalam sebuah novel. Mohon do'a nya ya teman-teman. Akhir kata, selamat membaca!


Aku, dia dan waktu (PART 1)

Selangkah lagi aku sampai di depan rumahnya. Aini, teman SMA ku dulu. Rival dan wanita yang pernah kucintai dalam diam. Tidak, hanya aku yang mencintainya. Entahlah kondisi sebaliknya seperti apa. Sampai saat ini aku tak tahu apakah dia juga mencintaiku.

Meski tujuanku sudah di depan mata, namun sulit sekali kaki ini untuk melangkah. Seperti lumpuh sudah kakiku. Tidak, aku tidak sedang sakit. Melainkan aku hanya belum siap untuk bertemu dengannya. Kawan, Hari ini aku akan menemuinya. Setelah sekian lama kami berpisah, tanpa kabar, Allah berbaik hati mempertemukan kami.

Langkah kakiku terhenti di seberang rumahnya. Meski sudah aku paksakan untuk melangkah, namun aku tidak sanggup. Aku enggan untuk masuk ke dalam rumahnya. Dengan pasrah, aku duduk di dekat gerbang rumah tetangganya sambil menenangkan diri. Kutarik nafas dalam-dalam, lalu aku keluarkan lewat mulut. Ya Allah, ada apa denganku? Kenapa aku sulit sekali untuk menemuinya.
Di pagi yang cerah itu, di akhir pekan yang melelahkan, dan persis di seberang rumah Aini aku melamun sendiri. Aku mengingat kembali masa-masa aku bersamanya. Masa-masa kami berjuang bersama melewati hari-hari yang rumit di sekolah. Yang mana akan sangat panjang bila aku ceritakan semuanya. Kawan, hari ini aku akan menceritakan sebuah perjalanan panjang. Yang hanya orang spesial saja yang dapat melewatinya. Dengarkan baik-baik, ceritaku ini akan membuatmu jatuh Cinta terhadap problematika kehidupan.

***

Waktu di tarik mundur jauh dari masa depan. Hari itu, di tahun 2010, dunia digemparkan oleh ajang piala dunia sepak bola. Afrika selatan menjadi tuan rumah di ajang yang paling bergengsi dan bersejarah. Spanyol sedang mempertaruhkan nasibnya menghadapi lawan mainnya yaitu Belanda. Berita tentang piala dunia 2010 ramai di dunia maya dan citra televisi. Semua orang sering sekali membicarakannya.

Aku tidak peduli dengan ramainya piala dunia afrika selatan. Aku dan teman-teman yang lainnya sedang panik menghadapi ujian nasional senin nanti. Hidup dan matiku, nasib masa depanku di tentukan oleh sebuah ujian yang berlangsung 3 hari mulai hari senin besok.

Aku sibuk mencari soal latihan beserta cara menjawabnya. Sangat disayangkan, aku sungguh menyesal selama belajar di kelas aku tidak pernah mencatat apa yang guru tulis dan guru katakan. Celaka! aku benar-benar panik!

Benar sekali! aku punya tetangga yang tak lain adalah rival ku di kelas. Apa aku kerumahnya saja, dan belajar bersama? Tidak, itu tidak mungkin. Aku sangat kesal dengannya. Dia pintar sekali. Bahkan selama tiga tahun kami sekelas, rangkingku selalu berada 1 tingkat di bawahnya. Aku tidak mungkin ke rumahnya. Tapi, jika aku malam ini tidak belajar, maka rangkingku akan jatuh lebih jauh di bawahnya. Huffft... baiklah, aku akan kerumahnya malam ini juga.

*Kriing~ (Bunyi bel rumahnya), klasik sekali.

Pintu rumahnya perlahan terbuka. Aini lah yang membukakan pintu untukku.

"Eh kamu Im, tumben kamu kesini. Ada perlu apa sama ai?" Tanyanya dengan heran.

"Begini loh Ai, Gue mau minta maaf soal lembar jawaban lo yang hilang itu. Sebenernya gue yang ngambil lembar jawaban lo itu, dan membuangnya ke tempat sampah. Gue bener - bener ngerasa bersalah sama lo. Maafin gue ya Ai." Aku buka pembicaraan dengan sedikit basa-basi sekaligus meminta maaf karena aku melakukan sebuah kecurangan yaitu membuang lembar jawaban uas matematika ai yang bernilai 95.

"Oh itu" Ai menjawab pendek.

*Brakkk (Suara pintu ditutup dengan keras oleh ai).

Aku terpental kebelakang. Kaget oleh suara bantingan pintu ai.

"Aini!, plis sekali aja maafin gue, gue cuma mau minjem buku catatan lo. Gue mau belajar. Pliss, besok UN ai, gue belum belajar".
 
Aini benar-benar marah kepadaku. Bagaimana tidak? nilai yang selama ini ingin dia ceritakan kepada kedua orang tuanya harus kotor karena ulah jahilku. Dan timingnya gak pas. Seharusnya aku tidak datang kerumahnya malam-malam begini. Ai benar-benar tidak memaafkanku. Itu artinya, tidak mungkin ai akan meminjamkan buku catatannya kepadaku.

Ai berjalan dengan sangat cepat, hendak masuk ke dalam kamarnya. Ibu ai merasa heran. Dan bertanya kepada Aini mengapa dia membanting pintunya sangat keras.

"Ai kamu kenapa? siapa yang datang?" Tanya ibunya dengan nada rendah.

"Boim bu" ai menjawab pendek.

"Boim? Maksud kamu Baim? Tumben dia kesini. Kamu abis berantem lagi ya sama dia?" Tanya ibunya aini.

"Au ah, ai capek, mau tidur" aini mengabaikan pertanyaan ibunya dan lekas masuk ke dalam kamar.

Ibunya aini berjalan ke ruang tamu dan membukakan pintu pelan-pelan. Engselnya sedikit rusak, maklum, rumah tua, engselnya saja sudah berkarat.

Ibu menengok ke sekeliling, dan terlihatlah wajah murung aku. Aku hanya bisa terduduk lesu dan merasa benar-benar bersalah.

"Baim?" Sahut ibunya aini kepadaku.

Seketika aku menengok ke belakang, dan melihat wajah cantik ibunya. Ibunya mirip sekali dengan aini. Hampir aku mengira bahwa yang memanggilku itu adalah Ai.

"Eh iya bu" aku menjawabnya sambil berdiri di hadapannya.

"Masuk yuk, ainya ada di dalam" Ajak ibunya untuk masuk ke dalam.

"Makasih bu, ngga usah, sudah malam, Baim pulang saja bu. Biarkan aini istirahat, besok kan Ujian Nasional". Ujarku menolak ajakan ibunya.

"Oh iya besok kalian ujian ya? Memangnya kamu tidak belajar Im?" Tanya lagi ibunya.

"Iya bu, besok kami Ujian Nasional. Rencananya sih malam ini Baim pengen ngajak Ai untuk belajar bareng, atau sekedar minjem buku catatannya. Tapi kayanya ai cape, jadi Baim pulang aja bu". Ujarku.

"Baim pamit ya bu, nanti kapan-kapan Baim mampir lagi kesini deh. Oh iya, salam buat ai ya bu"

"Oh kamu ngga mau masuk dulu im?" Tanya ibunya.

"Tidak bu, makasih, Baim Pamit dulu ya bu, Assalamualaikum".

"Waalaikumsalam, hati hati di jalan" Ujar ibunya ai.

Aku pulang kerumah dengan tangan kosong. Tanpa di pinjamkannya buku, dan Ai benar-benar marah kepadaku. Dan aku perhatikan wajahnya terlihat lesu tak berdaya. Matanya sembab, mungkin karena menangis seharian, memendam rasa kecewa kepadaku. Ya Allah, aku merasa sangat bersalah padanya.

Lampu di sepanjang jalan terlihat remang-remang. Banyak laron (binatang kecil) berterbangan, menari nari di bawah sorotan lampu berwarna kuning hangat. Di sepanjang jalan ramai oleh suara teriakan Bapak-bapak dan pemuda yang sedang seru menyaksikan pertandingan final piala dunia afrika selatan 2010, Spanyol melawan Belanda. Aku tidak peduli siapapun yang akan menang pada malam ini. Yang aku pikirkan adalah, bagaimana caranya agar aku bisa mengerjakan soal Ujian Nasional dengan tenang dan percaya diri. Dan malam itu, aku belajar seadanya dari internet dan beberapa buku catatan kelas 1 dan kelas 2 SMA.

Temanku, hari itu aini benar benar marah kepadaku. Meminjam buku catatannya saja tidak boleh. Bahkan ketika aku sapa, wajahnya berpaling. Dan hari itu aku berharap kemarahannya tidak lama-lama. Tahukah kalian? Sejak hari itu, seharian aku berusaha untuk meminta maaf kepadanya.

Hari itu, adalah hari yang sangat menegangkan. Gawat, semalaman aku tidak bisa tidur karena memikirkan bagaimana caranya aku menyelesaikan soal Ujian Nasional tanpa belajar dari materi yang pernah guru sampaikan?

Aku anggap hari itu aku gagal mengerjakan soal Ujian Nasional. Tidak apa-apa, memang ini adalah buah yang aku petik dari meremehkan materi yang guru sampaikan. Sudah seharusnya aku menerima kenyataan ini. Duuh Ya Allah, berikanlah aku petunjukmu.

Di jam pulang sekolah, seusai Ujian Pertama, aku pergi ke kantin untuk makan siang. Di sebelah barat sana aku melihat Aini sedang memesan makanan sendirian. Nyaliku menciut saat aku berada di dekatnya. Rasa bersalah yang sangat dalam membuatku malu dan tidak berani untuk duduk dan makan bersama dengannya.

Aku duduk di ujung bangku kantin sekolah. Tak lama kemudian, Aini datang menghampiriku.

"Nih". Aini menyodorkan buku Bahasa Inggris dan Matematikannya.

Seketika aku menengok ke wajahnya.

"Loh kok lo tau?". Tanyaku kepadanya.

"Semalam ibu bilang, katanya kamu mau minjem buku catatan saya. Yaudah ini". Ai menjelaskannya kepadaku.

"Sumpah loh Ai, Lo itu bener-bener perempuan yang paling cantik dan paling baik sejagat raya alam semesta ini. Makasih ya ai, aku bawa nih". Kataku.

"Ehh enak aja, kita belajar bareng. Saya ga punya lagi buku Bahasa Inggris dan Matematikanya" ujar ai.

"Ya elah, iya deh. Terus kapan?" Tanyaku padanya.

"Siang ini lah, Jam 2 di rumahku. Jangan telat!" jawab ai dengan nada tinggi membentak.

"Loh, jangan jam 2 plis... jam 2 itu waktu main game gue" balasku.

"Kalau kamu masih terus - terusan begini, sampai kapan pun saya ngga akan pernah maafin kamu dan saya akan ceritakan semuanya sampai kepala sekolah mendengarnya" ai mengancamku dengan nada yang terdengar kejam.

"Oke, gue ngalah. Jam 2 ya." ujarku.

Temanku. Sejak saat itu aku kembali dekat dengannya. Ternyata ai masih peduli dengan saingannya ini. Aini memang perempuan spesial di sekolah kami. Selain pintar, Ai juga orangnya baik dan pemaaf. Tidak sepertiku yang egois dan usil. Hehe.

***

"Es Cendolnya mas". Ujar penjual minuman Cendol di sebelahku.

"Oh udah ya? makasih mas". Aku mengambil dari tangannya.

Ku nikmati Es Cendol yang dingin, manis, dan murah meriah. Masih belum siap untuk melanjutkan perjalanan. Dan aku masih belum siap untuk bertemu dengan Aini. Mungkin sebentar lagi. Aku mengingat-ingat lagi kejadian lainnya saat bersama Aini.

Bersambung...

~~~

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan harianku - part 1

Atlantica Online Indonesia ditutup, penggemar setia kecewa

Jangan menyesal!! Karena masa tuamu ditentukan dari sekarang (masa muda mu)