Karma masih berlaku - Part 1

Karma masih berlaku - Pernahkah kalian mengingat-ingat kejadian yang sudah terjadi? Apapun bentuknya, baik itu kejadian menyenangkan atau sebaliknya. Tentu ada sensasi tersendiri saat kita mengingatnya. Saat mengingat kejadian yang menyenangkan kita akan tersenyum sendirian. Sebaliknya, jika kita mengingat kejadian yang tidak menyenangkan kita akan merasa kesal ataupun malu. Tergantung siapa pelakunya. 

Ayahku sering kali menceritakan kejadian yang pernah ia alami. Mulai dari tentang karma itu nyata, sampai menasehatiku agar jika aku sudah sukses nanti, jangan pernah lupakan siapa yang membuat kita sukses. Baiklah, aku akan berbaik hati menceritakan cerita yang pernah ayahku alami di masa lalu.


Karma - Merupakan hukum alam yang berbentuk balasan atas apa yang telah kita lakukan. Seperti itulah gambarannya. Saat kita mendzolimi seseorang, baik itu memfitnahnya, atau menjatuhkannya mungkin dan tidak mungkin kita akan merasakan karma. Karena karma sendiri bentuknya adalah balasan yang menimpa pada diri kita. Misalnya kita memfitnah seseorang sampai orang tersebut di kucilkan oleh satu kampung, maka jika karma menimpa pada diri kita, bisa jadi kita akan mendapati hal yang sama. Yaitu kita pun di kucilkan oleh satu kampung bahkan satu negara kalau lebih dahsyatnya lagi. Oleh karena itu jangan main-main.

Ayah pernah bercerita kepadaku tentang karma yang menimpanya saat melaksanakan umroh di mekah 2008 lalu. Waktu itu dia sering kehilangan sendal di masjidil harom. 2 sampai 3 kali dia kehilangan sepasang sendal. Tidak hanya ayah, kakak pertamaku yang saat itu ikut melaksanakan umroh pun mengalami kehilangan sepasang sendal. Sampai ketiga kalinya kehilangan Ayah merasa heran. Padahal yang ketiga kali ia simpan sandalnya persis di samping kanannya dan terikat sangat kencang. Tapi memang sepertinya sudah hukum alam, hukum karma memang masih berlaku.


Akhirnya mereka pulang ke hotel dengan nyeker (tanpa alas kaki). Panas lantai di tanah arab itu membuat kakinya hampir melepuh. Tapi saat di perjalanan, ayah melihat satu sandal sebelah kiri. Ayah menemukannya di tempat sampah. Jadi tanpa bermaksud mencuri, Ayah mengambil sandal tersebut dan memakainya di sebelah kiri. Tak lama kemudian Ayah menemukan lagi sandal sebelah kanan dengan warna yang berbeda. Lalu dipakaikannya oleh kakak pertamaku. Dan mereka pun pulang ke hotel dengan menggunakan sandal sebelah-sebelah.

Setibanya di kamar hotel, Ayah berpikir dan bertanya kepada kakak. "Hen, kenapa ya ko sandal kita bisa hilang 3 kali. Padahal seinget bapak, bapak ngga pernah ngambil sandal orang. Ada apa ya ini." Kakak hanya tersenyum kecil. 

Ayah masih berpikir keras, lalu mengingat apa yang pernah dilakukannya di masa lalu.

Benar saja! Ayah mengingatnya. Lucu sekali, Ayahku ternyata adalah orang yang jahil. Ternyata dia pernah melakukan sebuah kejahilan saat masih kecil. 

***

Di Palembang sana, karena ayah adalah orang palembang asli, Saat masih kecil, Ayah rajin sekali mengaji di sebuah sanggar yang bangunannya adalah rumah panggung. Ayah mengaji bersama teman-temannya. Ramai sekali, resap bila melihat pemandangan anak-anak kampung mengaji. Membentuk lingakaran dan membaca ayat demi ayat Al-Qur'an. 


Tidak sampai selesai, Ayah biasanya berpamitan izin keluar ke Pak Ustad dengan alasannya yang bermacam-macam. Bukan karena apa-apa. Ternyata ayah sudah menyiapkan ide jahil yaitu mengambil semua sandal (bakiak) milik siapapun itu, kebanyakan milik anak perempuan. Lalu dimasukkannya lah ke dalam kolong panggung. Kemudian di jam 5 sore, saat mengaji sudah selesai dan waktunya semua anak pulang, Ayah kembali lagi kesana dan diam diam bersembunyi untuk melihat reaksi anak-anak.

Anak-anak panik dan berteriak-teriak. Tidak ada satupun yang berpikir dan bersikap tenang. Semuanya panik seperti orang yang kehilangan benda paling berharga dalam hidupnya. Sontak Ayah tertawa dan senang jika melihat orang lain kesusahan mencari-cari sandal bakiak mereka. Aku yang sedang diceritakan olehnya pun tertawa mendengarnya. Ayah mengibaratkan ekspresi mereka kalang kabut. Katanya pak ustad pun heran, berpikir dua kali, bertanya-tanya siapa pelakunya. Jahil sekali hahaha.

***

Ayah dan Kakak tertawa-tawa mendengar cerita masa lalu Ayah. Rupanya ayahku yang selama ini aku kenal tegas, keras, juga memiliki sifat yang Jahil seperti aku waktu kecil. 

Sobat, benar atau tidak, di tanah arab, di kota mekah itu ternyata karma masih berlaku. Apa yang kita pernah lakukan di masa lalu, akan kita alami juga di masa sekarang. Jika tidak percaya, coba saja hehehe. Tapi ongkos umroh masih mahal. Aku doakan ya, agar teman-teman yang membaca artikel ku ini segera berangkat umroh, bahkan haji. 

Begitulah cerita tentang masa lalunya Ayah. Semoga dapat menjadi pelajaran baik untuk kita semua. Berhati-hatilah dengan tindakan yang kita lakukan. Jangan sampai kita merugikan orang lain karena perbuatan kita. 

Cerita ini masih ada kelanjutannya. Maka dari itu, jangan kemana-mana, tetap stay di blog pawkun. 
Sampai jumpa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan harianku - part 1

Atlantica Online Indonesia ditutup, penggemar setia kecewa

Jangan menyesal!! Karena masa tuamu ditentukan dari sekarang (masa muda mu)