Karma masih berlaku - Part 2
Karma masih berlaku part 2 - Setelah beberapa menit aku menuliskan cerita tentang karma masih berlaku part 1, sekarang aku tidak sabar untuk bercerita lagi tentang part 2 dari artikel karma masih berlaku.
Masih seputar karma yang Ayah alami. Tapi kali ini pelakunya bukanlah Ayah, melainkan rekan kerjanya dulu, sekaligus teman seperjuangan. Ayah memulai ceritanya dengan nada yang rendah. Tapi menyentuh dan menyindir. "Memang ya, orang kalau sudah di atas dan sudah kenal dengan uang banyak, lupa sama yang dibawah, yang bantuin dia untuk naik ke atas".
Hari itu kami sedang santapan malam. Hanya kami bertiga, menjamu hidangan sederhana yang di masak oleh kakak iparku dan menu tambahan yang baru saja aku beli, yaitu pecel ayam. Kami memiliki cara tersendiri saat menjamu makanan. Yaitu sambil membicarakan hal-hal yang baik agar suasanya menjadi lebih hangat meskipun hari itu diluar sedang ada hujan angin hebat.
Ayah bermaksud menasehatiku apabila nanti aku sudah sukses nanti, jangan sampai aku lupa dengan orang yang membuatku sukses. Jangan seperti temannya. Bukan pengkhianat atau apa, ayah pernah mempunyai teman yang dahulu sangat ia banggakan.
***
***
Dia adalah seseorang yang pintar. Mungkin IQ nya di atas rata-rata. Ayah bertemu dengannya kurang lebih 10 tahun yang lalu. Kemudian Ayah merangkulnya untuk diajak bekerja dan diberikan keahlian tambahan seputar dunia las atau welding. Kurang lebih 3 bulan ayah mengajari teknik mengelas dan ilmu - ilmu dasar mengenai cara mengelas. Meskipun sebenarnya tanpa diajarkan pun dia tahu.
Kemudian selepas 3 bulan itu, dia lama menghilang. Kabar angin mengatakan, kalau dia sudah sukses bekerja di kota besar sebagai Welding Inspector. Semua orang segan dengannya. Dengan cara bicaranya yang bijak, dan keputusan-keputusannya, serta ditambah lagi jabatannya yang tinggi, ia disegani oleh banyak orang, bahkan bule sekalipun.
Lain halnya dengan ayah. Jika ayah sudah mendapat pekerjaan, ayah akan mengajak orang lain yang belum bekerja untuk ikut bekerja bersamanya. Tapi dia tidak. Dia seolah-olah lupa dengan Ayah. Jangankan mengajak kerja, memberi kabar pun sehari bahkan sepekan saja jarang. Padahal jasa ayah kepadanya sangatlah besar. Dia diberikan tempat tinggal yang layak, diajarkan teori mengelas, artinya dia ayah bekali ilmu bekerja. Tapi sayang, ibarat pepatah bilang "kacang lupa kulit". Ayah merasa sakit hati. Karena perjuangannya tidak di hargai. Teman dekatnya menjadi sombong dan lupa akan jasanya.
Selang beberapa tahun, di puncak kejayaannya ayah mendapat kabar buruk. Teman ayah yang aku ceritakan itu dikabarkan jatuh sakit. Komplikasi. Biasa, penyakit orang kaya selalu seperti itu. Itulah yang ayah sebut karma masih berlaku. Akibat sombong dan melupakan jasa sang ayah, dia jadi jatuh sakit.
Sebagai teman yang baik, Ayah datang menjenguk kerumahnya. Rumahnya biasa saja. Semua harta bendanya kini dia jual untuk membiayai pengobatan penyakit komplikasinya.
Meskipun sudah jarang sekali bertemu dan bercengkrama, Ayah tetap tidak pernah lupa untuk memulai pembicaraan dengan temannya itu.
Tapi sayang, ekspetasi tak sesuai dengan kenyataan. Harapan Ayah penyakit sombongnya akan menghilang. Tapi ini tidak, dia berbicara dengan nada sombong, dia menolak tawaran bekerja dengan ayahku jika sudah sembuh nanti. Bahkan istrinya pun mendukung sombongnya itu. Sungguh tidak baik. Apalah daya, ayah hanya bisa menerima kenyataan pilu seperti ini. Orang yang dahulu dia banggakan dan dia andalkan, lupa kepadanya.
***
Sobat, begitulah kisah yang ayah ceritakan kepadaku dan temannya yang hari itu datang kerumah kami. Banyak sekali pelajaran yang dapat dipetik dari kisah ini. Terutama, janganlah sombong jika sudah berada di atas. Dan janganlah kita memutus tali silaturhami dengan teman atau keluarga. Karena, kita ini tidaklah ada apa-apanya tanpa ada orang baik di sekeliling kita.
Tapi sayang, ekspetasi tak sesuai dengan kenyataan. Harapan Ayah penyakit sombongnya akan menghilang. Tapi ini tidak, dia berbicara dengan nada sombong, dia menolak tawaran bekerja dengan ayahku jika sudah sembuh nanti. Bahkan istrinya pun mendukung sombongnya itu. Sungguh tidak baik. Apalah daya, ayah hanya bisa menerima kenyataan pilu seperti ini. Orang yang dahulu dia banggakan dan dia andalkan, lupa kepadanya.
***
Sobat, begitulah kisah yang ayah ceritakan kepadaku dan temannya yang hari itu datang kerumah kami. Banyak sekali pelajaran yang dapat dipetik dari kisah ini. Terutama, janganlah sombong jika sudah berada di atas. Dan janganlah kita memutus tali silaturhami dengan teman atau keluarga. Karena, kita ini tidaklah ada apa-apanya tanpa ada orang baik di sekeliling kita.
Satu tambahan dari teman ayahku yang duduk di sampingku.
"Kunci untuk hidup bahagia itu hanya 3. Sabar, Tidak mempersulit orang lain, dan silaturahmi".
Akhir kata aku ucapkan terimakasih karena sudah mau meluangkan waktunya untuk membaca artikel ini. Semoga bermanfaat, ambil yang baiknya dan abaikan yang buruknya.
Terimakasih.
Sampai jumpa.
Komentar
Posting Komentar