Resign atau pertahankan?

Resign atau pertahankan?

 
Beginilah nasib yang sedang aku alami. Mendapatkan banyak sekali tugas di saat aku mulai bosan dengan rutinitas pekerjaan yang monoton.

Di usia 20 tahun, memang inilah momentum dimana seorang pria / pegawai siap dengan kesibukan dan masalah yang akan di hadapi terus menerus. Hingga tak jarang banyak juga anak muda yang meninggal di usia dewasa muda karena stress atau tidak kuat menghadapi kenyataan.

Baiklah sekian intermezzo dari saya, saya cukupkan curhatnya. 

"Loh kok gitu? ah gak asik nih!"

Oh jadi mau dilanjutin nih? Oke, aku lanjutkan ya. 

Resign atau pertahankan. Mundur atau tetap pada posisi. Dua pilihan yang bersifat boolean atau keputusan yang menghasilkan ya atau tidak. Gak susah sih sebenarnya. Hanya saja kita terlalu memikirkan resiko apa yang akan kita terima setelahnya.

Sebuah ekspetasi berbunyi : 

"Jika Resign dari pekerjaan ini, bisa ngga ya aku bayar kuliah pakai uang aku sendiri?. Dan kalau dipertahankan, lama kelamaan sakit juga. Ah aku sudah bosan dengan pekerjaanku. Setiap hari begini-begini saja."

Ya, terkadang ekspetasi menghalangi kita untuk mengambil sebuah tindakan. Membayangkan secara berlebihan memang tidak boleh. Tapi salah juga jika kita tidak berpikir dulu dalam bertindak. Ya sekarang makin serba salah. Oleh karena itu kita harus lebih berpikir logis dan terbuka agar tidak salah jalan dan salah ambil keputusan.

Aku mulai merasa bosan pada pekerjaanku sebagai seorang desainer atau tukang setting di sebuah percetakan nomor satu di Kota Serang. Hal itu mulai aku rasakan dua bulan yang lalu. Saat itu aku sedang senang ngoding atau berlatih coding dan mendesain sebuah halaman website. Aku merasakan passion baru dalam hidupku. Dan di waktu yang bersamaan, aku merasakan skill atau kemampuan desain grafisku mulai menurun karena aku terlalu fokus dengan web desain.

Ini merupakan hal yang baik dan buruk. Baiknya, aku mendapatkan ilmu baru yaitu mendesain website dan buruknya jika secara terus menerus aku fokus ngoding, maka kemampuanku dalam mendesain atau merancang sebuah gambar akan hilang. Meskipun tidak sepenuhnya hilang sih, namun aku akan kehilangan ide dan kreativitas rancang gambar. 

Kembali lagi ke topik resign atau pertahankan. Pilihannya hanya ada dua. Meskipun hanya ada dua, namun aku bingung dan masih ragu mengambil sebuah keputusan. Di satu sisi aku masih kuliah, kuliah butuh uang, uang dicari dengan bekerja. Di sisi lain aku sudah mulai jenuh dengan rutinitas pekerjaan yang monoton. 

Finaly. Akhirnya aku ambil keputusan yang sangat-sangat berdasarkan hati nurani. Untuk saat ini aku tetap pertahankan pekerjaan yang sedang aku emban. Banyaknya tugas dalam sebuah pekerjaan itu memang sudah sewajarnya. Ya namanya juga kerja toh.

Dan temanku Angga (teman kuliahku) pernah bilang kepadaku. Yang mana intinya adalah, di dalam sebuah rutinitas baik itu bekerja atau berorganisasi, rasa bosan itu pasti ada. Dan rasa bosan itu adalah fase ujian. Kalau kita lulus, ya Insya Allah kita calon orang sukses. Dan kalau kita tidak lulus, maka hidup kita akan begitu-begitu saja. Maka berjuanglah! Bersyukurlah kepada Allah Subhanahu Wata'ala atas apa yang telah diberikannya. Salah satunya adalah nikmat mendapatkan pekerjaan. Bayangkan jutaan pelamar muda sedang mengantri dan mencari pekerjaan. Sedangkan kita, karena ada urusan lain atau sesuatu yang baru, langsung merasa bosan. 

Baiklah, sekian dulu pembahasan artikel sekaligus curahan hati aku, semoga ada manfaatnya. Terimakasih. Sampai Jumpa!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan harianku - part 1

Atlantica Online Indonesia ditutup, penggemar setia kecewa

Jangan menyesal!! Karena masa tuamu ditentukan dari sekarang (masa muda mu)