Menikah

Untuk kedua kalinya aku harus kehilanganmu.

Begitulah ungkapan yang tepat untuk ku saat ini. Aku harus kehilangan dia untuk kedua kalinya. Gadis cantik yang selalu mau mendengarkan ceritaku, teman semasa kecilku, teman pulang sekolahku, dan orang pertama yang selalu menyemangatiku saat aku menangis. Rabu, 24 Januari  2018 kemarin dia menikah dengan orang lain. Dia adalah teman dekatku dan potongan sejarah hidupku. Perempuan yang pernah aku kagumi, Adena.

Semasa kecil aku adalah anak yang jahil dan cengeng. Setiap kali aku kalah dan di permalukan oleh temanku, Adena selalu ada dan meredam tangisku. Aku selalu mencoba tegar saat dia disampingku. Seolah-olah aku tidak ada masalah. Kali pertama aku akrab dengannya pun sangat dramatis. Dan perpisahannya pun sangat mengiris. Kenangan itu sampai detik ini tidak pernah aku lupa.

Kawan, hari ini aku berbaik hati akan menceritakan kisahku ini kepadamu. Sekaligus aku mengenang masa kecilku. Yang seru dan membuatku rindu. Inilah kisahku.

***

Hari itu uang jajanku habis. Tak sekeping koin pun yang aku temukan di saku celana merahku. Sialnya lagi ojek jemputanku siang ini tidak menjemputku. Aku harus pulang cepat. Karena perutku sudah lapar sekali. Mau tidak mau siang ini aku harus berjalan kaki sendirian. Untung saja rumahku tak jauh dari Sekolahan. Baiklah, aku akan segera pulang.

Langkah kakiku dimulai. Aku fokuskan tujuanku kerumah. Memang agak beresiko untuk seorang anak kecil berwajah oriental berjalan di pinggir jalan sendirian. Karena pada waktu itu sedang marak sekali penculikan anak. Apalagi isu yang beredar, penculik itu mengincar anak dari etnis cina. Dan akulah satu satunya murid di Sekolah Dasar yang memiliki wajah oriental seperti orang cina. Padahal aku bukan dari keturunan cina. Lantas, langkah kaki kupercepat supaya lebih cepat sampai rumah dan terhindar dari penculikan.

Dari kejauhan terlihat 2 anak perempuan, umurnya kurang lebih sama denganku sedang berjalan kaki pulang dari sekolah. Penglihatanku nampak samar. Aku tidak mengenal mereka dari kejauhan. Dan yang aku ingat hanya tasnya. Perempuan yang lebih kecil dari Perempuan sebelah kanannya menggendong tas biru, sedangkan yang satunya menggendong tas berwarna merah jambu. Lalu langkah kakiku, aku kurangi agar tidak dekat dengan mereka. Di tengah perjalananku, mereka menyebrang ke sebuah pondok pesantren terkenal di daerahku. Mungkinkah rumahnya disana? aku masih memantaunya dari kejauhan. Mungkin saja. Dan tak lama kemudian, aku belok ke kiri, masuk ke gang perkampungan yang ramai dan sempit.

Keesokan harinya, kelas 4 sudah ramai oleh para murid laki laki dan perempuan yang datang sangat pagi. Aku melihat kedua tas yang baru saja aku jumpai kemarin. Lengkap sekali dengan siapa pemiliknya. Kemudian pandanganku langsung tertuju pada si pemilik tas biru. Si gadis kecil yang imut dan lucu rupanya. Aku kenal dia. Namanya Adena.

Sejak saat itu aku mulai kagum dengannya dan aku semakin penasaran padanya. Dan hari ini aku sengaja pulang cepat menghindari tukang ojek langganan yang akan menjemputku. Aku sengaja ingin berjalan kaki bersamanya.

Tepat sekali! kali ini dia berjalan sendirian. Ini adalah waktu yang tepat untuk aku mengobrol dengannya.

"Dena!" aku memanggilnya dari jauh, dan berlari kencang ke arahnya. Adena menoleh kebelakang dan dia memasang wajah polos cantiknya. Subhanallah... Dena cantik sekali hehe...

"Dena kamu pulang sendirian? ngga bareng nusroh?" tanyaku kepadanya.

"Iya nih ca, aku pulang sendirian, nusroh udah pulang duluan tadi".

"Saya temenin ya den, hehe" pintaku padanya.

Dan kami pun jalan berdua hingga kami terpisah di persimpangan jalan. Dena menyebrang, dan aku belok ke kiri masuk ke dalam gang.

Lalu kedekatan dan kebiasaan pulang bareng itu terus berlanjut. Hampir setiap hari aku pulang dengannya. Aku pernah duduk sebangku dengannya, bertukar minuman, dan juga kami pun pernah saling bertukar cerita dengannya. Hingga pada akhirnya, kedekatan itu harus berakhir. Cepat sekali.

Temanku menjegal kaki dena dari belakang. Adena tersungkur ke tanah dan kakinya terluka. Lalu aku yang berada di belakangnya di tuduh dan di maki oleh Adena. Dia mengira, aku lah yang melakukannya. Padahal bukan begitu kenyataannya. Hingga akhirnya, Adena menangis, dan benar benar marah kepadaku. Aku meminta maaf dan meyakinkan padanya kalau bukan aku yang melakukannya. Namun, Dena tidak percaya padaku. Dan aku terus menerus di hina oleh temanku. Cerita bohong kalau aku yang melukainya tersebar cepat. Sehingga aku merasa sangat malu dan lagi lagi aku menangis sendiri. Sungguh aku sangat lemah! Menyedihkan sekali aku ini! dan kali ini aku harus meredakan tangisku sendiri tanpa Adena.

Sejak hari itu, tak ada lagi pulang bareng. Tak ada lagi bertukar makanan atau minuman. Dan tak ada lagi cerita. Dia dan aku seolah-olah jauh dan Dena menganggapku musuh. Baiklah, kalau itu kemauannya, aku terima.

Waktu berjalan sangat cepat. 6 Tahun sejak aku dan dia tak berjumpa lagi, akhirnya waktu mempertemukan kita lagi di sebuah acara Reuni sekaligus buka bersama bulan puasa. 2016, hari itu aku terima sebuah voice note yang tak lain adalah suara Adena yang mengundang aku dan teman-teman Alumni untuk hadir di sebuah acara buka bersama sekaligus reuni. Dena bilang, dia sangat rindu sekali dengan aku dan teman-teman sebayaku. Sekian lama aku tidak berjumpa dengannya, dan juga dengan mereka, aku penasaran bagaimana perubahanya. Baiklah, ini saatnya kesempatanku untuk berbaur lagi dengan mereka. Dan nanti aku akan bertemu dengan Adena Hihi.

Hari itu aku masih bekerja di sebuah perusahaan swasta di kota Cilegon. Voice Note itu aku terima saat aku sedang beristrirahat di kantor. Selain itu aku juga di undang masuk ke grup Line Alumni SDN Umbul Tengah 1 Angkatan 2010. Di dalamnya sudah banyak sekali teman-teman SDku. Tak kusangka, ku kira ikatan pertemanan kami akan terputus karena kurangnya teknologi pada waktu itu. Untungnya kami seperti tetangga. Jarak Rumah kami beberapa saling berdekatan.

Kemudian tibalah hari itu. Dari tempat kerja, aku pacu motorku secepat mungkin agar segera sampai di sebuah restaurant jepang di Kota Serang, yang nantinya akan menjadi tempat reuni kami.

Pertama, orang yang aku temui adalah sahabat SD ku, Fadli. Dia adalah teman sebangkuku, teman yang jahil dan usil sepertiku. Dia pun orang yang di kabarkan juga pernah suka dengan Adena. Dan hari itu aku menjemputnya agar kami berangkat bersama. Tak banyak perubahan yang aku lihat darinya. Hanya saja bentuk fisiknya saja yang terlihat sedikit gemuk. Fadli pun terlihat tidak menyangka kalau hari ini kami akan Reuni. Dan ia pun sudah tidak sabar ingin bertemu Adena, sama sepertiku.

Kami tiba di Restoran itu agak telat. Mereka sudah menunggu di lantai 2. Detak jantungku berdegup kencang. Seperti apa perubahan yang terjadi pada mereka. 

Setibanya di lantai 2, wajah-wajah itu terlihat berbeda dari sebelumnya. Mereka terlihat semakin dewasa. Dan juga bentuk fisiknya beberapa ada yang berbeda. Itu dia, Adena dan Nusroh. Potongan sejarah kehidupanku. Mereka tumbuh menjadi perempuan yang cantik. Namun tak begitu besar respon yang dia berikan kepadaku. Aku dan Adena menjadi hanya sebatas kenal. Mungkin dia sudah lupakan kejadian 8 tahun yang lalu. Tidak apa-apa, bisa berkumpul seperti ini saja aku sudah cukup senang.

Berikut foto-fotoku saat reuni pertama tahun 2016.


Adena yang berada di tengah mengenakan baju dan kerudung cokelat. Dan di sebelahnya adalah Nusroh yang aku ceritakan tadi.  


Nah kalau di foto ini yang pakai kacamata dan kemeja biru itu adalah aku. Kumal sekali bukan? hehehe... Maklum, baru pulang kerja. Belum sempat mandi sore.


Dan inilah foto Adena yang terlihat jelas dari dekat. Cantik bukan? hehehe.

Reuni pun selesai dan di tutup dengan sesi foto bersama. Setelah itu tak ada lagi kontak dengan Adena. Kami pun pulang kerumah masing-masing. Namun aku mengajak Fadli dan Handoko untuk mampir kerumahku. Dan kami pun saling bertukar cerita mengenai reuni tadi dan kejadian saat masih SD.

Setahun berikutnya, Reuni kedua di selenggarakan. Adena lagi-lagi mengundang kami dan kawan-kawan. Aku yang memilih lokasi reuni dan buka bersama. Destinasinya masih sama, hanya saja restorannya yang berbeda. Dan disini aku yang bertanggung jawab memilih tempat dan mengatur jumlah anggaran.

Aku kembali bertemu teman-teman lama yang tahun kemarin tidak bisa datang. Semakin banyak yang datang di reuni kedua ini. Termasuk Adena dan saudaranya Nusroh. Kali ini dia terlihat berbeda. Dia mengenakan Cadar dan baju gamis full tertutup. Aku semakin kagum kepadanya.

Namun sayang. Berita buruk datang dari mulutnya langsung. Dia mengundang kami untuk datang ke pernikahannya sekitar tahun depan. Untuk kedua kalinya aku harus kehilangan Adena. Adena tidak tahu kalau aku menyukainya. Yang dia tahu aku hanyalah temannya. Lagi-lagi pupus huuu....

Akan tetapi berita itu tidak membuat semangatku luntur. Aku terus membenahi diri agar aku bisa bertemu dengan jodohku. Saat Adena mau menikah, aku tak dapat menghalanginya. Aku ikhlaskan. Sebab, aku bukan siapa-siapanya. Aku hanyalah potongan sejarah hidupnya, begitu pun sebaliknya.


Adena Bercadar

***

Selamat menempuh hidup baru Adena. Semoga kamu dan suami dapat mengarungi bahtera rumah tangga yang rumit dengan segala kemudahan yang Allah berikan. Dan semoga kamu di karuniakan putra-putri yang sholeh dan sholehah. Aamiin...



Pernikahannya menjadi reuni kami yang ketiga di tahun 2018. Terimakasih kalian semua telah mengisi hari-hariku di masa kecilku. Semoga kalian semua menjadi orang-orang yang sukses dan berguna bagi Bangsa dan Negara. Aamiin...
Note : Kalau inget Adena dan masa SD itu, inget main Harvest Moon A Wonderful Life Di PS2
Tokoh Adena itu mirip banget sama Gadis yang berambut Pirang bernama Muffy. Genit dan semangatnya persis, sama banget hehehe. Duh jadi kangen Adena Main PS 2 lagi nih hehe...


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan harianku - part 1

Atlantica Online Indonesia ditutup, penggemar setia kecewa

Jangan menyesal!! Karena masa tuamu ditentukan dari sekarang (masa muda mu)