Si Bando Ungu - Bag.1
Si Bando Ungu - Kala itu hari-hari seorang anak laki-laki berusia 11 tahun sangat ceria. Ringgo namanya. Setiap hari ia bermain dengan riangnya. Berlarian kesana-kemari tak kenal lelah. Tersungkur di tanah merah, lalu menangis dan terluka seolah-olah sudah menjadi teman akrabnya. Tangis lelah, dan perih goresan luka yang membekas di lututnya juga seakan menggambarkan dirinya adalah anak yang kuat. Namun, Ringgo seperti anak mamah ejek teman-temannya ketika ia menangis.
Anak itu tumbuh di lingkungan yang sangat mendukungnya untuk menjadi anak yang pintar. Namun ia memilih jalan yang berbeda dari harapan kedua orang tuanya. Hari-hari nya selalu dihabiskan untuk menjadi anak yang nakal. Semakin hari Ringgo pun kian tumbuh sebagai anak yang nakal, jahil, iseng, senang berkelahi dan senang mengganggu temannya. Tak jarang teman yang ia jahili itu berkelahi dengannya. Sekali lagi ketahuilah Ringgo bukanlah anak yang kuat. Setelah perkelahian itu, Ringgo selalu kalah dan menangis. Sehingga lagi-lagi temannya mengejek dia "anak cengeng". Malang sekali nasibnya.
Meski nakal, Ringgo adalah anak yang baik dan pintar. Ia tak pernah tinggal kelas. Setiap tahun ia selalu naik kelas meskipun tidak pernah mendapatkan rangking di kelasnya. Menapaki tingkatan baru, yang mana semula Ringgo kelas 2 SD, naik menjadi siswa kelas 3. Dan disanalah ringgo mengenal apa itu rasa suka. Suka terhadap anak baru pindahan dari luar kota.
Tahun ajaran baru pun dimulai. Hari itu suasana kelas 3 sangat gaduh. Tak ada guru yang mengajar dikelas. Hasilnya, semua siswa yang berada di dalam kelas menjadi ribut tak karuan. Wajar saja, hari itu adalah hari pertama masuk sekolah usai libur panjang.
Kegaduhan dikelas semakin menjadi. Sebab, bu guru Arin hendak masuk kedalam ruang kelas 3 sambil menuntun anak baru yang semula semua tidak kenal. Semua anak di dalam kelas merasa heran. Siapakah gadis cantik nan imut berhias bando ungu di rambutnya? Ringgo pun yang duduk di bangku paling depan menatap heran dan takjub. Waktu itu seolah olah waktu itu kedua kipas Ringgo sedang berada di dalam film India yang biasa ia tonton bersama kakak perempuannya di rumah. Di balik gadis itu mungkin terdapat sebuah kipas yang mengibaskan rambutnya. Dramatis, Romantis, dan Ringgo suka gadis lucu itu.
Pertama-tama bu Arin menenangkan seisi kelas yang gaduh. Kemudian ia hendak memperkenalkan gadis lucu itu kepada para murid.
"Anak-anak, ibu minta waktunya sebentar ya. Di kelas kita kedatangan murid baru. Namanya Alika. Dia adalah murid pindahan dari sekolah lain. Ibu harap kalian semua berteman baik yaa sama Alika." Ujar bu Arin sambil memegangi pundak Alika, anak baru itu.
"Iyaa bu guruuu" Sorak murid murid dengan serentak.
"Anak-anak, ibu minta waktunya sebentar ya. Di kelas kita kedatangan murid baru. Namanya Alika. Dia adalah murid pindahan dari sekolah lain. Ibu harap kalian semua berteman baik yaa sama Alika." Ujar bu Arin sambil memegangi pundak Alika, anak baru itu.
"Iyaa bu guruuu" Sorak murid murid dengan serentak.
Dan hari-hari baru Ringgo dimulai. Sikapnya berubah, ia menjadi anak yang Caper alias suka Cari-Cari Perhatian. Ringgo suka kepada Alika. Namun rasa suka dan cintanya kala itu boleh kita sebut dengan "Cinta Monyet". Jatuh cinta dan suka, namun malu-malu. Tak ada cinta yang serius kala itu. Namun Ringgo jatuh cinta tidak sendirian. Hampir semua anak kelas 3 menyukai satu gadis bando ungu yang cantik nan jelita. Mengetahui hal itu, Ringgo berusaha untuk mendapatkan perhatian dari Alika.
Pikirannya hanya tertuju pada Alika. Pulang sekolah teringat Alika, sore hari Alika, malam hari melukis wajah Alika dan hari-hari berikutnya hanya Alika dan Alika. Ringgo selalu termotivasi untuk mendekatinya. Dan Ringgo tak pernah bosan untuk memikirkan Alika si gadis bando ungu yang jelita.
Motivasi Ringgo selalu datang dari mana saja. Salah satunya adalah dari sebuah lagu yang sering terdengar di telinganya dan selalu di putar oleh kakak perempuannya setiap siang. Lagu itu di nyanyikan oleh band peterpan yang berjudul tak bisakah yang populer di tv pada zamannya di tahun 2006. Ringgo pernah mempunyai ide untuk membuat skateboard dari papan bekas yang ada di gudang rumahnya dan dari sebuah roda pada kursi belajar yang sudah rusak. Namun hal itu tidak sempat ia lakukan lantaran Ibunya mencegah dia untuk melakukan hal yang aneh-aneh. Ringgo pun kecewa. Dan ia berpikir lagi bagaimana cara nya untuk mendapatkan perhatian khusus dari Alika. Apakah harus berpura-pura sakit, agar Alika datang menjenguk. Ataukah harus menjahilinya juga agar Alika mau berinteraksi dengannya. Tepat Sekali. Pilihan yang terakhir itu adalah jalannya. Ringgo si anak nakal akan mencari perhatian Alika dari ulah jahilnya.
Usil!
Ringgo perlahan-lahan mencuri perhatian Alika. Mulai dari menyembunyikan tas dan buku. Sampai menarik bando Alika di dalam kelas. Alika pun marah dengan ekspresi lucu dan Ringgo pun senang. Beberapa anak memperhatikan ulah Ringgo dan mungkin di antara mereka merasa kesal atau pun lucu. Entahlah Ringgo tidak dapat menebaknya.
Dan di luar kelas pun Ringgo tak henti hentinya mengganggu Alika. Alika yang suka bermain permainan tradisional engkle atau lompat lantai pun tak lepas dari ulah jahil Ringgo yang mencuri gacon atau batu andalan lalu membuangnya jauh-jauh, dan Ringgo pun lari dan pulang. Salah seorang sahabat Alika menceritakan kekesalan Alika terhadap Ringgo yang selalu mengganggunya. Bukannya merasa bersalah, Ringgo malah senang kegirangan, karena ulahnya berhasil membuat Alika meresponnya.
Kelakuan usil Ringgo akan terus di lakukan sampai Alika memintanya untuk berhenti.

Komentar
Posting Komentar