Si Bando Ungu - Bag.2
Hari-hari berikutnya Ringgo selalu dihantui oleh Alika lewat mimpi. Karena mimpi indah itulah Ringgo selalu telat datang ke sekolah. Dan Ringgo seperti orang yang baru saja memenangkan kejutan hadiah dari balik tutup botol. Senang, seperti orang yang tak berakal saja.
Pada waktu itu, dalam rangka mempromosikan produknya, banyak sekali produsen minuman teh yang sombong membagikan hadiah secara cuma-cuma. Karena hadiah itulah tetangga Ringgo menjadi korban dan mengutuk produsen minuman botol itu karena ia sudah beli banyak namun tidak kunjung menang. Ringgo tidak mengerti akan hal itu, ia hanya fokus memikirkan Alika, pujaan hatinya.
Hati Ringgo sedang berbunga-bunga. Tuhan sedang baik kepadanya. Hampir setiap hari Tuhan selalu menghadirkan Alika lewat mimpi indah Ringgo. Ringgo seperti orang dewasa yang di mabuk cinta. Memang belum saatnya, namun Ringgo sudah merasakan perasaan itu.
Ringgo memang sedang bahagia. Namun tidak dengan Alika. Alika justru sangat tidak suka kepadanya. Alika marah besar karena sekali lagi Ringgo telah berbuat usil, yakni ia menarik bando ungu Alika dan melemparkannya jauh ke tanah. Ringgo memang usil. Baginya, Ringgo sudah kelewatan. Jahat, hingga hari itu ia melaporkan kelakuan Ringgo kepada Ibunya. Tamatlah harapan Ringgo tuk mendapatkan pujaan hatinya itu.
Tahukah kalian, rupanya Ibu Alika adalah ustadzah di Sekolah Madrasah tempat Ringgo belajar pendidikan Agama Islam. Dan hari itu ada ujian hafalan. Semua siswa di wajibkan untuk setor hafalan juz ama kepada ustad dan ustadzah. Awalnya Ringgo merasa biasa-biasa saja. Maju dan menghadap ustadzah dengan percaya diri. Namun sebelum ia memulai setor hafalan, ustadzah itu bertanya kepadanya.
"Kamu Ringgo ya? temannnya Alika di sekolah kan?"
Ringgo hanya menunduk dan mengangguk pelan. Bermaksud "iya", namun ia punya firasat buruk. Semula ia tidak tegang, kini ia seperti sedang menghadapi Hakim yang akan menghabisi hidupnya.
"Nak Ringgo, saya ibunya Alika. Alika ceritakan semuanya tentang kamu ke saya. Alika sering merasa terganggu karena ulah kamu. Ibu mohon, tolong jangan ganggu Alika lagi yah". Sambung Ustadzah yang ternyata adalah Ibunya Alika. Dan hari itu tergambar raut wajah Ringgo yang menunduk malu dan menyesali perbuatannya.
Keesokan harinya, sepulang sekolah Ringgo datang menghampiri Alika. Ringgo menghentikan permainan Engklek dan mengambil batu gacon milik Alika. Lalu Ringgo mengulurkan tangannya seraya meminta maaf kepada Alika atas perbuatan yang merugikan dirinya dan Alika.
Alika adalah anak yang baik. Sejahat apapun Ringgo terhadapnya, ia tetap memaafkannya. Dan tak lama setelah Ringgo meminta maaf, Ringgo pergi meninggalkan Alika dan teman-temannya yang sedang bermain sepulang sekolah.
Galau! kalau menurut bahasa zaman sekarang. Sepulang sekolah Ringgo merasakan galau berkepanjangan seraya menyesali perbuatannya yang lalu itu. Ia pun berfikir bagaimana caranya agar tetap bisa dekat dengan Alika namun tidak menyakitinya.
*Klink! Suara bel sepeda pengantar koran harian berbunyi. Sekaligus tanda Ringgo mendapatkan ide yang brilian.
Suatu hari Ringgo menawarkan diri untuk bermain bersama dengan Alika. Awalnya Alika menolak permintaan Ringgo itu. Namun Ringgo pun memaksanya."Ayolah pliss.. boleh yah..?" Pinta Ringgo terhadap Alika. Dan akhirnya Alika pun mengizinkan Ringgo untuk bermain engklek dengannya. Namun dengan satu syarat. Ringgo harus serius, tidak bercanda. Dan dari situlah Ringgo berhasil mendekati Alika tanpa harus menyakiti perasaannya.
Kabar kedekatan Ringgo dengan Alika terdengar sampai ke semua siswa di kelas 3. Sorak seru Cieee terlempar setiap kali mereka masuk ke dalam kelas. Ada yang mengiranya mereka berpacaran, dan ada yang mengira mereka sudah menikah. Dasar anak-anak.
Kedekatan Alika dan Ringgo membuat teman laki-laki yang juga menyukai Alika merasa patah hati. Termasuk sahabat Alika, Handoko yang tak lain adalah tetangga Ringgo.
Rupanya Alika adalah tetangga jauhku. Rumahnya tidak jauh, hanya kompleknya saja yang berbeda. Jaraknya Rumahnya bisa Ringgo tempuh menggunakan sepeda tua pemberian Ayahnya.
Suatu sore, Haddad teman satu kelas Ringgo saat TK Nol Besar dan Fadli yakni teman sebangkunya datang ke rumah Wahyu, Tetangga Ringgo yang sedang menggelar hajatan sunat. Rupanya mereka adalah saudara Wahyu.
Kebetulan sore itu mereka bertemu dengan Ringgo di jalan. Haddad memanggilnya dan mengajaknya untuk menghampirinya. Lalu Haddad memberikan kabar gembira kepada Ringgo kalau ia tau dimana rumah Alika. Sore itu juga mereka pergi menuju rumah Alika. Ringgo di bonceng Haddad di belakang. Sedangkan Fadli dibonceng Hadad duduk di depan sepeda.
Setibanya di depan rumah Alika, mereka terdiam sejenak melihat tas dan buku yang berantakan di halaman teras. Ringgo tentu mengenali tas itu. Dan mereka pun menunggu si pemilik tas, yakni Alika si gadis bando ungu keluar dari rumahnya. Mereka hanya menunggu pujaan hatinya keluar dan ingin melihat wajahnya dengan serius. Namun sayang, hingga menjelang maghrib Alika tak kunjung keluar. Mereka pulang dengan kecewa. Sangat kecewa. Belum lagi liburan sekolah masih panjang. Mereka sedang menikmati masa libur panjang. Libur kenaikan kelas.
Setelah berminggu-minggu Ringgo menghadapi sepi dan rindu yang berat terhadap Alika, akhirnya hari itu datang juga. Yakni awal tahun ajaran baru. Di jenjang kelas 4. Ringgo dan teman-temannya naik kelas. Namun rasa bahagia tak sepenuhnya dirasakan oleh Ringgo. Hari itu ia tak kunjung melihat sosok Alika. Entah kemana, Ringgo tak tahu.
Pukul sepuluh pagi, Ibu Alika datang menghadap ke kepala sekolah. Ringgo melihatnya dan kenal sekali dengan orang yang pernah menegurnya. "Ada apa?" Ringgo bertanya-tanya. "Kemana Alika?" Ringgo seperti anak kerbau yang terpisah dari koloninya. Ringgo kebingungan.
Rumor pahit akhirnya sampai di telinga Ringgo. Sebuah kabar buruk diterima oleh Ringgo bahwa Alika lagi-lagi pindah sekolah dan pindah rumah. Ringgo sangat kaget dan sedih, pujaan hatinya akan pergi jauh entah akan bertemu lagi atau tidak. Kedatangan Ibunya Alika adalah untuk membereskan administrasi sekolah Alika.
Kemana pindahnya Alika, Ringgo tak tahu. Ada yang mengatakan bahwa Alika pindah tak jauh dari rumahnya. Ada pula yang mengatakan bahwa Alika pindah ke sebuah daerah di Jawa Barat yaitu di Kuningan. Entahlah mana yang benar. Yang pasti, Ringgo merasa terpukul dan sedih seribu kali berlawanan dengan rasa bahagianya ketika bersama Alika dulu.
Selepas Alika pergi, Ringgo menjadi anak yang murung, tak bersemangat. Bahkan Ringgo sering menangis sendirian di kamar. Mimpi-mimpi indahnya hilang dan berubah menjadi mimpi buruk yang setiap malam selalu menghantuinya. Ringgo tak tahu dimana Alika. Tak ada yang bisa di cari. Alika hilang dalam hidupnya.
Hingga hari kelulusan tiba ia tak mendapatkan informasi tentang keberadaan Alika. Alika adalah potongan sejarah daripada Ringgo. Pertanyaan "kemanakah Alika" dalam kepala Ringgo berubah menjadi "akankah suatu hari aku akan bertemu dengannya?".
Mungkin saja Ringgo. Kau pasti akan menemukan apa yang kau cari. Tetap semangat Ringgo! Cintamu masih ada.
Mungkin saja Ringgo. Kau pasti akan menemukan apa yang kau cari. Tetap semangat Ringgo! Cintamu masih ada.
Komentar
Posting Komentar