Mereka bukan lawan, tapi kawan
Waktu ditarik mundur 10 tahun yang lalu. Membuat kenangan
indah yang tersimpan di memori otak terputar kembali. Menggambarkan secara rinci
apa yang pernah terjadi pada hari itu.
Siang yang terik di tahun 2008 aku berjalan kaki sendirian
menuju rumah. Aku tidak terlalu memperhatikan sekitar. Hingga ada seseorang
yang memanggilku dari gardu pos ronda. Mereka berjumlah dua orang dan aku
mengenali keduanya. Dia adalah Anam dan Adim teman sekelasku di kelas 5. Pakaiannya
kotor dan kebesaran, serta di panggulnya lah karung berisi botol plastic dan Koran
bekas.
Awalnya aku sedikit takut untuk bertemu mereka. Karena setiap
kali aku bertemu dengan mereka, mereka selalu membully dan memukulku. Namun rasa
takut itu aku sembunyikan sementara, lalu menghampirinya perlahan lahan. Dan kami
bertiga saling berbicang-bincang.
Nyatanya mereka bukanlah anak yang nakal. Mereka hanya anak
yang membutuhkan teman sepertiku. Lalu aku termenung saat mendengarkan
ceritanya sampai habis. Aku sangat merasa bangga kepada mereka. Karena masih
kecil sudah mampu berdiri tegak sendiri meskipun berkali-kali di hantam oleh angin
kehidupan yang sangat kejam.
Terima kasih kawan. Kalian telah mengisi masa kecilku yang
di masa mendatang dapat aku ceritakan kepada anak dan cucuku. Kalian telah membuat
kakiku berdiri tegak dan berlari kencang mengarungi dunia.
Komentar
Posting Komentar